NDP PMII dan Krisis Lingkungan: Ketika Pembangunan Melupakan Kemanusiaan


Oleh: Bilqis Nasika Lutfia




Pembangunan sering kali menjadi ukuran kemajuan sebuah daerah. Jalan dibangun, gedung berdiri, kawasan industri berkembang, dan berbagai proyek terus dijalankan dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di tengah proses tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: pembangunan seharusnya tidak mengorbankan lingkungan dan kehidupan manusia.

Hari ini, persoalan lingkungan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Sampah yang menumpuk, sungai yang tercemar, hutan yang berkurang, hingga banjir dan longsor yang berulang menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam sedang menghadapi persoalan serius. Kerusakan tersebut bukan hanya disebabkan oleh perilaku individu, tetapi juga berkaitan dengan cara pembangunan direncanakan dan kebijakan publik dijalankan.

Pembangunan memang dibutuhkan. Masyarakat memerlukan fasilitas pendidikan, pekerjaan, infrastruktur, dan berbagai kebutuhan lainnya. Akan tetapi, pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan dampak sosial dan ekologis dapat melahirkan persoalan baru. Ketika lahan pertanian berubah fungsi, sumber air tercemar, atau masyarakat kehilangan ruang hidupnya, maka kemajuan perlu dipertanyakan kembali.

Apakah pembangunan benar-benar ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat, atau justru membuat sebagian masyarakat harus menanggung kerugian atas nama kemajuan?

Hablum Minal Alam: Tanggung Jawab Manusia terhadap Lingkungan

Dalam konteks inilah NDP PMII atau Nilai Dasar Pergerakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia memiliki relevansi yang penting. NDP tidak semestinya hanya dipahami sebagai materi yang dipelajari dalam forum kaderisasi, tetapi juga sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Salah satu nilai yang perlu mendapat perhatian adalah hubungan manusia dengan alam atau hablum minal alam. Hubungan ini mengingatkan bahwa manusia tidak hidup terpisah dari lingkungan. Kehidupan manusia bergantung pada keberadaan air, tanah, udara, tumbuhan, dan berbagai unsur alam lainnya. Karena itu, alam tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai objek yang dapat dimanfaatkan tanpa batas.

Manusia memang memiliki kemampuan untuk mengelola sumber daya alam, tetapi kemampuan tersebut harus disertai tanggung jawab. Pemanfaatan alam yang mengabaikan keberlanjutan dapat merusak keseimbangan kehidupan dan pada akhirnya kembali merugikan manusia itu sendiri.

Hablum minal alam juga tidak dapat dilepaskan dari nilai ketauhidan. Sebagai makhluk Allah SWT, manusia memiliki tanggung jawab untuk memperlakukan ciptaan-Nya dengan baik. Keimanan tidak cukup hanya diwujudkan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga perlu tercermin dalam cara manusia menjaga lingkungan dan memperlakukan sesama.

Ketika sungai tercemar, hutan rusak, dan masyarakat kehilangan sumber penghidupan akibat pembangunan yang tidak bertanggung jawab, persoalannya bukan hanya tentang kerusakan alam. Ada tanggung jawab manusia yang perlu dipertanyakan.

Kader PMII dan Tanggung Jawab Mengawal Pembangunan

Sebagai organisasi mahasiswa yang membawa nilai keislaman dan keindonesiaan, PMII memiliki tanggung jawab untuk melahirkan kader yang mampu membaca persoalan masyarakat secara kritis. Kader tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga perlu menghubungkan nilai-nilai pergerakan dengan realitas yang ada di sekitarnya.

Krisis lingkungan dapat menjadi salah satu ruang bagi kader PMII untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. Persoalan sampah, pencemaran sungai, alih fungsi lahan, dan dampak pembangunan terhadap masyarakat merupakan isu yang perlu dikaji, didiskusikan, dan dikawal.

Kepedulian terhadap lingkungan tentu dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial, penghijauan, pengelolaan sampah, maupun pengabdian kepada masyarakat. Namun, gerakan lingkungan tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Kader PMII juga perlu berani melihat persoalan yang lebih mendasar, termasuk bagaimana kebijakan pembangunan dibuat dan siapa yang paling merasakan dampaknya.

Kritik terhadap kebijakan publik harus dibangun berdasarkan pengetahuan, data, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. Kader tidak harus menolak seluruh bentuk pembangunan, tetapi perlu memastikan bahwa pembangunan berjalan secara bertanggung jawab dan tidak mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Di sinilah hablum minal alam menjadi penting. Hubungan manusia dengan alam bukan hanya persoalan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga bagaimana manusia mengambil keputusan yang tidak merusak kehidupan di sekitarnya. Mengawal pembangunan agar tetap memperhatikan lingkungan merupakan salah satu bentuk nyata dari tanggung jawab tersebut.

Mengembalikan Arah Pembangunan

Krisis lingkungan menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial dan ekonomi. Kerusakan alam dapat mengganggu mata pencaharian, meningkatkan beban masyarakat, dan memperbesar ketimpangan. Oleh karena itu, pembangunan perlu dipahami sebagai proses yang tidak hanya menghasilkan kemajuan secara fisik, tetapi juga menjamin keberlangsungan kehidupan.

Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyusun kebijakan yang mempertimbangkan dampak lingkungan dan membuka ruang partisipasi masyarakat. Pelaku usaha perlu menjalankan aktivitasnya dengan memperhatikan tanggung jawab sosial dan ekologis. Sementara itu, masyarakat juga perlu membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Kader PMII dapat mengambil peran dengan menghubungkan pengetahuan, kesadaran, dan tindakan. Gerakan tersebut dapat dimulai dari ruang diskusi, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga advokasi kebijakan publik. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, NDP PMII akan kehilangan makna apabila hanya berhenti sebagai hafalan dalam forum kaderisasi. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diwujudkan melalui cara kader membaca persoalan, menentukan sikap, dan mengambil tindakan.

Pembangunan seharusnya menghadirkan kesejahteraan, bukan meninggalkan kerusakan. Sebab, keberpihakan kepada manusia tidak akan pernah utuh apabila manusia itu sendiri dibiarkan hidup dalam lingkungan yang rusak.

Bagi kader PMII, menjaga lingkungan bukan sekadar bentuk kepedulian terhadap alam, melainkan bagian dari tanggung jawab perjuangan. Hablum minal alam perlu diwujudkan dalam sikap kritis terhadap pembangunan, kepedulian terhadap masyarakat, dan tindakan nyata untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.

Dari sinilah nilai-nilai NDP dapat diterjemahkan menjadi gerakan yang nyata: mengawal pembangunan, membela kepentingan masyarakat, dan memastikan bahwa kemajuan tetap berpihak pada kehidupan.

Komentar

Postingan Populer