Yang Hilang dari NDP PMII, Perlukah Kita Kembalikan?

Oleh: Nadim Rifki

Apa yang sebenarnya kita cari ketika membaca Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII?

Kalau jawabannya hanya untuk menghafal materi kaderisasi, rasanya kita sedang memperlakukan NDP terlalu sederhana. NDP seharusnya bukan sekadar teks yang selesai dibaca ketika pelatihan berakhir. Ia adalah cara PMII melihat manusia, Tuhan, masyarakat, alam, dan perubahan zaman.

Karena itu, ada satu bagian dalam sejarah NDP yang menarik untuk kembali kita bicarakan: “kebudayaan dan tradisi, ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Dalam manuskrip awal NDP yang ada, bagian tersebut pernah masuk dalam rumusan Nilai-Nilai Dasar. 

Lalu dalam perjalanan penyempurnaan NDP, poin tersebut tidak lagi muncul dalam rumusan yang kita kenal hari ini.

Pertanyaannya: apakah kita perlu membicarakannya kembali?

Menurut saya, iya.

Bukan karena kita ingin bernostalgia dengan rumusan lama. Bukan pula karena semua yang lama pasti lebih baik. Tetapi karena persoalan yang dulu dibicarakan ternyata justru semakin penting hari ini.Jangan Sampai PMII Kehilangan Akar, PMII lahir dan tumbuh di tengah masyarakat yang kaya dengan tradisi dan kebudayaan.

Pesantren, gotong royong, musyawarah, kesenian, tradisi masyarakat, sampai berbagai kearifan lokal adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari perjalanan kader PMII. Tetapi hari ini keadaan berubah. Budaya dari berbagai penjuru dunia masuk ke kamar kita hanya melalui layar handphone. Apa yang kita tonton, dengarkan, dan ikuti setiap hari sedikit demi sedikit ikut membentuk cara berpikir kita.

Pertanyaannya, apakah kita masih mengenal kebudayaan sendiri ketika setiap hari kita begitu akrab dengan budaya orang lain?

Di sinilah PMII perlu hadir.Bukan untuk memusuhi budaya baru. Bukan juga untuk menganggap semua tradisi lama harus dipertahankan.

Kader PMII harus mampu membaca budaya secara kritis: mana yang perlu dirawat, mana yang perlu dikembangkan, dan mana yang memang harus ditinggalkan.Sebab menjaga tradisi bukan berarti anti terhadap perubahan.

Kita boleh berjalan ke depan, tetapi jangan sampai lupa dari mana kita berangkat.

Teknologi Jangan Hanya Dipakai, Harus Dipahami

Hal yang sama berlaku pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hari ini kita hidup di tengah kecerdasan buatan, media sosial, ekonomi digital, digital banking, algoritma, dan berbagai perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mau menggunakan teknologi atau tidak.Teknologi sudah ada di depan mata. apakah kader PMII hanya akan menjadi pengguna, atau ikut menjadi orang yang memahami dan menentukan arah perkembangannya?

Kita jangan sampai hanya bisa menggunakan teknologi, tetapi tidak memahami dampaknya terhadap manusia dan masyarakat.

Kecerdasan buatan, misalnya, bukan hanya soal bagaimana menggunakan AI untuk membuat tulisan atau menyelesaikan pekerjaan. Ada persoalan pendidikan, pekerjaan, etika, ketimpangan, bahkan masa depan manusia yang perlu dibicarakan.ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan nilai.Teknologi tanpa nilai bisa kehilangan arah. Nilai tanpa penguasaan ilmu pengetahuan juga bisa kehilangan daya.PMII membutuhkan keduanya. Mengembalikan Bukan Berarti Mundur

Membicarakan kembali poin “kebudayaan dan tradisi, ilmu pengetahuan dan teknologi” bukan berarti PMII harus kembali ke masa lalu.

Justru kita sedang mengambil kembali gagasan yang pernah ada untuk menjawab persoalan yang jauh lebih baru.Dulu kita menghadapi modernisasi. Sekarang kita menghadapi digitalisasi.Dulu kita berbicara tentang menjaga tradisi. Sekarang kita juga harus berbicara tentang budaya digital. Dulu teknologi mungkin dipahami sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan. Sekarang teknologi bahkan sudah ikut menentukan cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

Karena itu, menurut saya, gagasan tersebut layak untuk kembali dibicarakan dalam tubuh PMII. Bukan sekadar untuk menambah kalimat dalam sebuah rumusan. Tetapi untuk memperluas ruang gerak kader.

Kita membutuhkan kader yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan mampu menguasai teknologi.

Sebab kalau PMII ingin tetap menjadi organisasi yang relevan, maka tugas kita bukan hanya menjaga apa yang sudah ada. Tugas kita juga adalah mempersiapkan kader untuk menghadapi apa yang belum pernah ada.

Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi Mengapa poin itu hilang? Tetapi “Apakah kita siap menghidupkannya kembali?”

Bukan untuk kembali ke masa lalu.Tetapi untuk memastikan PMII tidak kehilangan arah ketika berjalan menuju masa depan.

Komentar

Postingan Populer